Bisakah kamu berhenti bertanya, kamu kenapa? Bukan, bukan maksudku untuk memintamu berhenti memperdulikanku. Bisakah kamu mencari tau sendiri tanpa harus bertanya padaku? Bisakah?

Aku bukan ingin mengabaikanmu, sungguh. Aku sangat menyayangimu, ku hormati kamu, sebagaimana kamu tau aku telah melakukannya.
Tapi aku hanya ingin kau menyaritau sendiri, aku hanya ingin kau tidak percaya bahwa ketika aku bilang “aku baik-baik saja”, dan kau segera bergerak menyaritau tentangku.

Lihat dirimu, kau terlalu percaya dengan kata-kataku, bahkan sikap perubahan yang telah aku tunjukkan tidak kau hiraukan karena kau percaya tidak ada dibalik kata “aku gpp”.

Bisakah kau lihat aku? Rasakan perubahan aku? Aku hanya bingung bagaimana menjelaskannya, harus menjawab apa ketika kau tanya “kamu kenapa?” , rasanya dengan ku bilang pun, lalu apa yang akan terjadi? Aku tau jawabannya darimu, dan aku tau apa yang harus aku lakukan. lalu? buat apa aku menjawab pertanyaanmu. Ketika aku meminta sesuatu untuk kau lakukannya, sekarang. Itu pun hambar, basi, garing. kau bukan robotku yang harus ku minta lakukan ini, lalu kau lakukan ini. sungguh berbeda, ketika kau lakukan itu atas dasar kemauanmu sendiri. Benar kan aku? Lalu buat apa aku memberitahumu aku kenapa? Ketika kau berjanji untuk melakukannya suatu saat nanti. Aku pikir aku sudah hapal jawabanmu itu. Lalu buat aku menjawab pertanyaanmu jika itu hanya soal waktu? Aku hanya sudah lelah menjawab pertanyaan yang sering kali sudah ku jawab.

Berhentilah bertanya. berhentilah percaya dengan jawaban “aku gpp”. berhentilah bersikap seperti itu.

Iklan