Tag

, , , ,


image

“Saya terima nikah dan kawinnya windy binti bambang triwidigdo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai”

04 April 2015, tadi pagi kau ikrarkan bacaan itu dihadapan orangtuaku, orangtuamu, keluarga besar kita serta tamu undangan. Ikrar yang menerangkan perpindahan tanggungjawab bapakku menjadi tanggungjawabmu, bukan hanya sekedar pembacaannya saja.

Bismillahirrahmanirrahim…
kalimat itu yang kau ucapkan sebelum kau meminangku, suamiku. Iya engkau Ahmad Zulfikar, yang sekarang menjadi suamiku. Rasanya aku begitu canggung namun aku bahagia sekali sekarang dapat memanggilmu dengan panggilan kepemilikan, bahwa kau sekarang adalah suamiku.

Assalammualaikum suamiku, sapaan ini yang aku bisikan kecil ditelingamu saat kau usai membaca ijab qabul tadi pagi, mulai malam ini ijinkan aku memegang tangan kananmu dan biarkan aku mencium hangat tangan kananmu, tangan yang harusku salami selalu setiap pagi hari sebelum kau berangkat mencari nafkah untuk keluarga kita. Berharap dalam ciuman hangat ditangan itu, suamiku dapat dilancarkan dalam mencari rejeki yang halal, selalu dalam keimanan, dan dilindungi kesehatannya oleh Allah SWT.

Suamiku, kita telah melalui hubungan untuk saling mengenal selama 1703 hari, selama itu kita ada dalam banyak kebahagiaan dan juga pertikaian kecil yang terjadi. Saat itu, kita bisa sama-sama bertahan dan mengecilkan ego kita, karena tujuan kita adalah sampai pada pernikahan. Sekarang, kita sudah sampai pada tujuan utama kita yaitu menjadi sepasang suami istri. Aku harap, kita dapat bangun kembali tujuam hidup kita setelah menikah, karena aku tau menikah bukan hanya menjadi happy ending, justru menikah adalah awal kita bagaimana membangun kebahagiaan. Jika kemarin 4 tahun kita telah sama-sama kuat bertahan demi mencapai sebuah pernikahan, maka mulai hari ini kita akan sama sama terus saling kuat bertahan dan saling membahagiakan demi mencapai keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah.

Suamiku, beberapa tahun lalu aku telah membuatkanmu sebuah surat untuk calon imamku tersayang, hari ini aku menuliskan kembali untuk orang yang sama namun berbeda kedudukan, sekarang kau bukan lagi menjadi calon imamku, kau adalah imamku untuk selamanya, aku tau didalam surat yang lama aku banyak menaruh harapan pada sosok imam yang sempurna, dan aku tau yang ada dipangkuanku ini adalah sosok imam yang sempurna untukku, jika kau merasa ragu tidak dapat menjadi imam yang sempurna untukku, ingatlah kembali mengapa kau ingin menikahiku….maka akan dengan sendirinya kau akan menjadi imam yang sempurna untukku dan anak-anak kita kelak.

Suamiku… mulai hari ini, aku akan tidur disampingmu, menemanimu dalam dinginnya malam dengan mendekapmu erat, membangunkanmu bekerja, menjaga makanan dan waktu istirahatmu, merapikan pakaian yang sedang kau pakai, memanjakanmu usai bekerja, dan memenuhi kebutuhan biologismu. Jika aku lalai, ingatkan aku suamiku, jangan kau marahiku…aku bukan wonderwoman yang tibatiba bisa berubah dari si manja menjadi si bisasegalanya.

Akhirnya, aku bisa membacakan surat ini dengan mengelonimu dalam pangkuanku, mengusap rambutmu dan mengecup keningmu, ini surat pertama yang kau dengarkan langsung bukan seperti biasa yang kau baca dalam blogku.

Hari ini usai dari kita menjadi ratu dan raja sehari bagi orang lain, tapi buatku ingin ku jalani menjadi ratumu setiap hari sambil menunggu hal-hal manis yang akan kau berikan untukku sebagai istrimu, janji-janji kecil yang pernah terucap, terutama ingin selalu membuatku bahagia.

Kita mulai kehidupan kita dengan penuh tantangan dari hari esok. Asalkan menjalaninya berdua dan saling kuat untuk bertahan. Hari esok pasti akan lebih baik. Insha allah.
Bismillahirrahmanirrahim…

Iklan